Generasi Muda Suriah di Pentas Politik
Banyak pejabat Suriah yang kini menempati posisi strategis tercatat berusia antara 30 hingga 35 tahun. Fenomena ini menarik perhatian publik karena menunjukkan pergeseran generasi dalam struktur kekuasaan negara pascaperang.
Secara demografis, generasi ini lahir sekitar 1990 hingga 1995. Artinya, ketika Musim Semi Arab meletus pada 2011, usia mereka masih berkisar antara 16 hingga 21 tahun.
Pada masa itu, sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar, mahasiswa, atau baru memasuki usia dewasa. Mereka bukan pengambil keputusan politik, bukan elite militer, dan bukan pula penentu arah negara.
Namun justru merekalah yang tumbuh besar di tengah konflik. Masa remaja dan awal kedewasaan mereka diwarnai perang, pengungsian, krisis ekonomi, dan runtuhnya institusi negara.
Pengalaman inilah yang membentuk karakter generasi pejabat baru Suriah. Mereka tidak mengenal stabilitas pra-2011 sebagai pengalaman hidup, melainkan sebagai cerita masa lalu yang diwariskan generasi sebelumnya.
Bagi generasi ini, negara yang pincang bukan penyimpangan, melainkan realitas sehari-hari. Hal itu membuat pendekatan mereka terhadap pemerintahan cenderung pragmatis dan fokus pada fungsi dasar negara.
Pergeseran generasi ini juga terlihat jelas di wilayah eks kekuasaan Pasukan Demokratik Suriah atau SDF. Selama sekitar 11 tahun, wilayah tersebut berada di luar kontrol penuh pemerintah pusat.
Di wilayah-wilayah ini, ribuan pemuda berusia 19 hingga 25 tahun kini menyatakan minat mengikuti seleksi tentara Kementerian Pertahanan Suriah. Namun mereka menghadapi kendala serius di tahap administrasi.
Masalah utama yang muncul adalah ketiadaan ijazah pendidikan formal. Banyak dari mereka tidak menyelesaikan sekolah menengah karena menolak mengikuti sistem pendidikan SDF.
Sekolah-sekolah di bawah administrasi SDF dinilai sebagian warga sarat dengan indoktrinasi ideologi Abdullah Ocalan, tokoh utama gerakan Kurdi kiri radikal. Penolakan ini bukan karena anti-pendidikan, melainkan penolakan ideologis.
Akibatnya, satu generasi muda kehilangan jalur pendidikan formal yang diakui negara. Mereka tumbuh dengan pengalaman militer, keamanan lokal, atau kerja informal, tetapi tanpa dokumen akademik.
Situasi ini menciptakan paradoks pascakonflik. Negara membutuhkan sumber daya manusia muda untuk rekonstruksi dan integrasi nasional, sementara banyak pemuda justru terhambat syarat administratif.
Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko melahirkan frustrasi sosial. Pemuda yang ingin kembali ke negara justru terhalang oleh sistem yang tidak mereka rancang sejak awal.
Sejumlah pengamat menyebut persoalan ini bukan semata masalah disiplin, tetapi warisan struktural dari fragmentasi wilayah selama perang. Negara menghadapi konsekuensi dari perpecahan panjang.
Solusi yang kini mulai dibahas adalah penerapan jalur khusus bagi pemuda eks wilayah SDF. Jalur ini bisa berbentuk pendidikan penyetaraan atau ujian kompetensi negara.
Melalui skema ini, kemampuan riil calon prajurit dinilai melalui tes literasi, fisik, dan kedisiplinan, bukan hanya dokumen ijazah yang secara historis sulit mereka miliki.
Pendekatan serupa pernah diterapkan di negara pascakonflik lain, dengan tujuan menyerap generasi perang ke dalam struktur negara resmi, bukan membiarkannya terpinggirkan.
Selain itu, negara juga dapat membuka program pendidikan kilat berbasis asrama militer, yang menggabungkan pelatihan dasar dan pendidikan formal bersertifikat.
Langkah ini tidak hanya menyelesaikan persoalan administratif, tetapi juga berfungsi sebagai alat integrasi nasional dan penyembuhan luka konflik.
Generasi yang kini berusia 30–35 tahun dan mengisi jabatan negara adalah bukti bahwa waktu telah berjalan jauh sejak 2011. Negara Suriah kini berhadapan dengan generasi yang tidak lahir dari stabilitas, tetapi ditempa oleh perang.
Keberhasilan Suriah ke depan sangat ditentukan oleh apakah negara mampu mengakomodasi realitas generasi perang ini, bukan dengan hukuman administratif, tetapi dengan kebijakan adaptif yang mengubah luka konflik menjadi modal pemulihan nasional.


Tidak ada komentar
Posting Komentar