Breaking News

Cahaya Baru di Idlib yang Terluka


Di tengah puing-puing panjang perang yang belum sepenuhnya reda, Idlib menyaksikan sebuah peristiwa yang tak sekadar seremoni. Di bawah langit musim dingin yang pucat, warga berkumpul menyaksikan peresmian kembali makam Khalifah Umayyah kedelapan, Umar bin Abdul Aziz, yang telah direhabilitasi setelah mengalami kerusakan akibat aksi vandalisme rezim sebelumnya. Momen itu terasa lebih dari sekadar pembukaan bangunan; ia menjadi napas harapan di tanah yang lama terluka.

Peresmian kembali ini terlaksana dengan dukungan Turki, yang turut membantu proses restorasi kompleks makam bersejarah tersebut. Bangunan yang sebelumnya hancur dan ternoda kini berdiri kembali dengan wajah yang lebih teduh. Batu-batu yang sempat retak kini tersusun rapi, dinding yang pernah terbakar kini kembali memantulkan cahaya.

Bagi warga Idlib, ini bukan sekadar pemugaran fisik. Makam Umar bin Abdul Aziz memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Ia dikenal dalam sejarah Islam sebagai khalifah yang adil dan zuhud, simbol kepemimpinan yang bersih di tengah kekuasaan besar Dinasti Umayyah. Namanya kembali disebut-sebut dengan suara lirih dan bangga.

Suriah hari ini belum berada dalam kemewahan untuk membangun monumen baru yang megah. Anggaran negara terbebani oleh kebutuhan dasar, dari listrik hingga roti. Rekonstruksi bertumpu pada APBN yang ketat serta dukungan dana masyarakat yang terbatas namun tulus.

Karena itu, meresmikan kembali bangunan yang direhabilitasi menjadi sesuatu yang istimewa. Ia bukan proyek ambisius yang menguras kas negara, melainkan simbol keteguhan untuk menjaga yang tersisa. Di negeri yang banyak kehilangan, mempertahankan yang ada adalah bentuk keberanian.

Pejabat setempat menyampaikan bahwa restorasi ini bukan hanya soal memperbaiki struktur, tetapi mengembalikan martabat sejarah yang sempat dirusak. Tindakan vandalisme yang dilakukan pada masa lalu meninggalkan luka kolektif. Kini, dengan setiap batu yang dipasang kembali, ada rasa keadilan yang perlahan dipulihkan.

Upacara pembukaan berlangsung sederhana namun khidmat. Tak ada pesta besar atau gemerlap lampu. Yang terdengar hanyalah doa-doa, bacaan ayat suci, dan bisikan syukur dari para warga yang memadati halaman kompleks makam.

Beberapa di antara mereka mengaku tak pernah bermimpi melihat tempat itu kembali berdiri utuh. Tahun-tahun konflik membuat harapan terasa mahal. Banyak bangunan runtuh dan tak pernah dibangun kembali. Namun hari itu, satu jejak sejarah berhasil dihidupkan kembali.

Di tengah ekonomi yang masih tertekan dan infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih, pemerintah daerah memilih fokus pada rehabilitasi bangunan yang memiliki nilai simbolik tinggi. Strategi ini mencerminkan realitas Suriah saat ini: membangun perlahan, sesuai kemampuan, tanpa janji muluk.

Dukungan Turki dalam proyek ini juga menandai dimensi regional dalam upaya pemulihan Suriah bagian utara. Bantuan tersebut memungkinkan proses restorasi berjalan lebih cepat dan terarah. Namun pada akhirnya, yang memberi makna adalah keterlibatan masyarakat setempat.

Para pekerja yang terlibat dalam rehabilitasi sebagian besar adalah warga lokal. Mereka bekerja bukan hanya demi upah, tetapi demi kebanggaan. Setiap sentuhan semen dan batu adalah pernyataan bahwa Idlib belum menyerah.

Makam Umar bin Abdul Aziz selama berabad-abad menjadi pengingat tentang keadilan dan kesederhanaan dalam kepemimpinan. Menghidupkannya kembali di era pascakonflik terasa seperti pesan tersirat: Suriah merindukan stabilitas dan tata kelola yang bersih.

Bagi generasi muda yang tumbuh di tengah suara dentuman dan sirene, peresmian ini menawarkan narasi berbeda. Ia berbicara tentang pemulihan, tentang sejarah yang tak sepenuhnya musnah, dan tentang kemungkinan masa depan yang lebih tenang.

Meski demikian, tantangan rekonstruksi nasional masih membentang luas. Ribuan sekolah, rumah sakit, dan rumah warga menunggu giliran untuk diperbaiki. Dengan anggaran terbatas, pemerintah harus menimbang prioritas secara hati-hati.

Namun justru dalam keterbatasan itulah peresmian ini terasa begitu bermakna. Ketika tak mampu membangun gedung baru, memperbaiki yang lama menjadi pernyataan sikap. Bahwa sejarah tak boleh dihapus, dan identitas tak boleh diruntuhkan.

Warga yang hadir menyalakan doa bukan hanya untuk masa lalu, tetapi juga untuk hari esok. Beberapa menitikkan air mata saat memasuki kembali ruang yang sempat mereka lihat hancur. Ada keheningan yang berat sekaligus hangat.

Seorang tokoh masyarakat menyebut bahwa membangun kembali bukan hanya soal beton dan marmer. Ia tentang mengembalikan rasa memiliki. Tentang memastikan anak-anak mereka kelak masih dapat menunjuk dan berkata, “Di sinilah bagian dari sejarah kami berdiri.”

Suriah mungkin belum mampu bermimpi besar tentang kota-kota baru yang modern. Namun hari itu, Idlib membuktikan bahwa mimpi kecil pun bisa menyala terang. Sebuah makam yang diperbaiki menjadi lambang kebangkitan perlahan.

Di antara reruntuhan yang masih tersisa di berbagai penjuru negeri, cahaya dari makam yang direhabilitasi itu tampak sederhana. Tetapi bagi banyak orang, ia bersinar lebih kuat dari bangunan baru mana pun. Ia adalah tanda bahwa dari puing-puing, kehidupan tetap menemukan jalannya kembali.

Peresmian kembali makam Umar bin Abdul Aziz bukan akhir dari perjuangan rekonstruksi Suriah. Ia adalah awal yang tenang namun penuh semangat, sebuah langkah kecil yang sarat makna di negeri yang sedang belajar berdiri lagi.

Tidak ada komentar